Latest Post
Loading...

Apr 28, 2016

HIKMAH TERSEMBUNYI DIBALIK MULIANYA BULAN RAJAB

 

Foto Profil Maslianor
HIKMAH TERSEMBUNYI DIBALIK MULIANYA BULAN RAJAB 
oleh : Ustadzah Hj. Maslianor ( Guru M.Ts.N Muara Uya )
Bulan Rajab, sungguh mengajarkan kepada kita bahwa Allah pasti memiliki rencana. Kelak kita akan mensyukuri sebuah karunia setelah berbagai cobaan kita rasakan.

”Sesungguhnya zaman berputar sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Dalam setahun terdapat dua belas bulan yang di antaranya terdapat empat bulan yang dihormati, yakni Dzulqaidah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab, yang terdapat diantara bulan Jumadil Tsaniah dan Sya’ban.” (HR. Bukhari-Muslim)
Beraneka kejadian dan peristiwa terus berlalu silih berganti. Berbagai kondisi kita lalui dari tahun ke tahun. Tanpa terasa, BESOK, kita akan melewati bulan Rajab di tahun ini.
Ada kebahagiaan dan ada kesedihan yang kita rasakan, namun kita harus tetap hidup tanpa penyesalan. Kita mesti senantiasa optimis, meski berbagai rintangan senantiasa menghimpit dan menguras keimanan.
Bagaimana pun juga masa yang akan datang harus dihadapi dengan keimanan dan ketakwaan yang melimpah. Apapun pun kondisi yang telah menimpa dalam waktu-waktu yang lalu, baik yang telah lama maupun yang baru saja terjadi; yang masih begitu segar dalam ingatan kita, namun esok hari tetaplah misteri. Mungkin kemarin kita sangat berat dan mengalami kesulitan dalam hidup, namun bukan berarti kita boleh takut menghadapi fajar esok hari.
Bulan Rajab, sungguh mengajarkan kepada kita bahwa kita Allah pasti memiliki rencana, kelak kita akan mensyukuri sebuah karunia setelah berbagai cobaan yang kita rasakan. ”PAKET PERJALANAN” Rasulullah mulai dari wafatnya istri dan paman tercinta hingga peristiwa isro’mi’roj di bulan Rajab merupakan sebuah pelajaran sangat berharga bagi kita bahwa setiap kesusahan dan rintangan dalam menjalankan misi dakwah pasti digantikan dengan anugerah yangmenjadikan hidup kita lebih berkualitas.
Terlebih bahwa setiap anugerah juga sebenarnya selalu mengandung ujian bagi kita untuk semakin mengintensifkan segala potensi kita demi mengupayakan keridhoan Allah SWT. Sejarah seputar peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan palajaran berharga, bagaimana kesusahan dan kesedihan tergantikan dengan sebuah pesan (berupa sholat lima waktu) sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Hm,,, jadi ingat kata2 terakhir almarhum ust.jefri “tiap manusia pasti akan mengalami sebuah titik kejenuhan dalam hidup dan pada saat itu “kembali” (taqorrub ila Allah) adalah solusi terbaik”
Pesan Isra’ Mi’raj ini mengindikasikan bahwa sebelum menerima sebuah tugas yang lebih berat, tentu terlebih dahulu kita akan diuji. Jika sukses melewati ujian yang diberikan Allah, tentu kita akan menerima anugerah sebagai karunia dan kemahamurahan Allah SWT. Maka jika ingin meningkatkan derajat ketaqwaan, mestinya kita mempersiapkan diri menghadapi berbagai ujian.
Bulan Rajab juga merupakan salah satu bulan haram yang artinya bulan yang dimuliakan. Dalam tradisi Islam dikenal ada empat bulan haram, ketiganya secara berurutan adalah: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan satu bulan yang tersendiri, Rajab. Sebagaimana yang disebutkan dalam QS At Taubah 36:
“ Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah 12 bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya 4 bulan haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang 4 itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”
Lalu kenapa bulan-bulan tersebut disebut bulan haram? Al Qodhi Abu Ya’la ra. mengatakan, “Dinamakan bulan haram karena 2 makna:
1. Pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian.
2.Pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.” (Lihat Zaadul Maysir, tafsir surat At Taubah ayat 36)
Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Allah mengkhususkan 4 bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.” (Latho-if Al Ma’arif, 207)
Tentang bulan-bulan tersebut, Al-Qur’an menjelaskan:
Dan dalam kitab Tafsir Djalalain surat At Taubah ayat 36 juga dijelaskan dikarenakan mulianya 4 bln tsb, maka Allah memerintahkn kita agar tdk berbuat sesuatu yg merugikn diri sndiri alias brbuat sia-sia/maksiat, dgn kata lain kita dperintahkn u/memanfa’atkn waktu dgn sebaik-baiknya dbln tsb salah satunya dgn brpuasa, hal diperkuat dalam hadis riwayat imam Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad yg berbunyi “Rasulullah bersabda “Puasalah pada bulan-bulan haram (mulia)” dan juga diriwayatkan dalam hadis sahih imam Muslim bhwa Nabi bersabda: “Seutama-utama puasa setelah Ramadan adalah puasa di bulan-bulan haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab)”.adapun pd lanjutan kalimat berikutnya di ayat tsb justru kita boleh memerangi org musyrik apabila mereka(org musyrik) memerangi kita tp kita juga tidak boleh menyerang jika mereka tidak menyerang dan di akhir kalimat Allah menguatkn kembali bahwa Allah itu brsama orang-orang yg bertaqwa, yakni org yg mau menjalankn perintahNya berupa memuliakn 4 bln haram spt melakukn puasa/memprbanyak amal ibadah dan menjauhi laranganNya yg berupa melakukan prbuatan yg merugikn diri sndiri spt berbuat sia-sia/maksiat di bln haram tsb. u/lebih jelasnya monggo tmn2 kroscek langsung dlm kitab tafsir jalalain (ingat bukan buku terjemahan tafsir tetapi kitabnya langsung).
Demikian, Wallahu A’lam bishshowab.

No comments:
Write komentar

Slider 2