Latest Post
Loading...

Jan 9, 2016

Sang Guru Masa Depan

 

Ketika jam belajar telah usai aku mengajak anak-anak untuk berdoa dan bersiap-siap untuk pulang, ketika aku sudah keluar ruangan salah seorang siswi kelas dua datang mengahampiriku namanya Siti Khodijah teman-temannya biasa memanggil ijah, sambil menunduk di depanku dia meminta jam tambahan untuk belajar siang, tanpa berpikir panjang aku mengganggukkan kepala menandakan menyetujui permintaanya, 

Dia terlihat sangat senang kemudian segera berlari ke kelasnya dan memberi tau teman-temannya yang lain, saat aku masuk mereka sudah siap untuk mengikuti jam tambahan, sementara kelas-kelas yang lain sudah pulang dan sekolah sudah sangat sepi, akhirnya aku ajak mereka pindah ke ruang kelas yang ada bangku dan kursinya agar mereka bisa duduk dengan nyaman karena kelas mereka hanya beralaskan ubin yang sudah rusak.

Selang beberapa menit aku memulai kegiatan dengan menyuruh mereka untuk membaca satu persatu secara bergiliran, hal ini aku lakukan untuk mengetes kemampuan awal agar aku bisa melakukan pemetaan, beberapa siswa aku temui belum bisa membaca dengan lancar, hal ini di akibatkan oleh kurangnya pemahaman tentang abjad tepatnya beberapa siswa tersebut belum hafal abjad, walau aku sadari bahwa sebenarnya huruf ini di ajarkan di bangku kelas satu tapi mau tidak mau aku harus mengulangnya lagi, siswa di bagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama untuk siswa yang sudah bisa membaca dengan lancar dan kelompok kedua yang bacaannya masih terbata-bata, untuk tahap pertama aku tangani siswa yang belum bisa membaca atau masih terbata-bata, cara pertama yang aku lakukan adalah dengan menunjukkan abjad yang ada di buku lalu mengajaknya mengulang hingga berulang kali, namun aku pikir cara ini bukan cara yang tepat karena siswa masih saja susah untuk mengingatnya walaupun sudah diulang beberapa kali, keadaan ini tidak membuatku berputus asa sampai disitu, aku mencoba dengan cara yang lain, cara kedua ini hampir sama dengan cara yang pertama namun ada sedikit perbedaan, aku mengajak siswa untuk mengulang bacaan lalu mereka mengikutinya, setelah dilakukan secara berulang-ulang selanjutnya adalah meminta siswa untuk menunjukkan huruf yang aku minta, cara kedua ini sama saja dengan yang pertama belum memberikan hasil yang memuaskan, sebagai langkah terakhir adalah aku menulis beberapa abjad di kertas dengan menggunakan Snowman, kemudian kartu abjad tersebut di gelar di atas bangku kemudian dia mengambil salah satu kartu yang aku sebut, begitulah seterusnya, jika dia berhasil mengambil kartu yang aku sebutkan maka dia mendapat reward berupa permen yang memang sudah aku sediakan, tapi jika salah maka permen yang berhasil di kumpulkannya menjadi milik siswa lain yang berhasil menjawab, cara ini berhasil membangkitkan semangat belajar mereka, Alhamdulillah beberapa siswa tersebut berhasil mengenal huruf walaupun membacanya masih terbata-bata, setidaknya mereka sudah memiliki modal awal yang mengantarkannya untuk bisa membaca, betapa senangnya ketika keberhasilan itu bisa diraih walaupun kecil.

Begitulah sekelumit kisah di tanah pengabdian, keadaan ini telah mengajarkan kepadaku banyak hal, aku harus memahami arti sebuah keihlasan yang kini aku jalani dengan segudang masalah, kini apa yang telah menjadi cita-citaku sudah berada di depan mata, Sekolah Guru Indonesia telah mengantarkanku untuk menjadi manusia yang senantiasa bersyukur atas apa yang aku terima, lingkungan yang kini aku tempati mengajarkan untuk bersabar dengan segala kondisi yang ada, aku tidak perna berharap lebih atas apa yang aku lakukan, aku hanya berharap bahwa ini adalah jihadku.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2015/05/28/69371/sang-guru-masa-depan/

No comments:
Write komentar

Slider 2